🎓 UNIVERSITAS PADJADJARAN
🏅 SINTA 2 JOURNAL ARTICLE
📄 Journal Articles

Strengthening Islamic Philanthropy Through New Productive Waqf Movement in Indonesia

Sosiohumaniora, Vol. 27 No. 1, March 2025: 578–586
👥 Authors: Hadiyanto Abd Rachim & Rusdin Tahir
🔗 DOI: https://doi.org/10.24198/sosiohumaniora.v27i1.63330
🎯Focus
Islamic Philanthropy
🏛️Case Study
Waqf Pro 99
📈Impact
MSME Resilience
⭐ FEATURED PUBLICATION

📌 Article Highlight

Artikel ini membahas penguatan filantropi Islam melalui gerakan wakaf produktif berbasis bisnis kuliner. Fokusnya pada bagaimana Faith-Based Organization memperkuat ketahanan UMKM pada masa krisis Covid-19.

🔑 Keywords: Islamic philanthropy, social practices, culinary business, productive waqf.

🔬 Qualitative Study 📚 Case Study 💠 Islamic Social Finance 🕌 Productive Waqf
📖 Full Article View Academic Publication Detail

🇮🇩 Memperkuat Filantropi Islam Melalui Gerakan Baru Wakaf Produktif di Indonesia

👥 Penulis
Hadiyanto Abd Rachim; Rusdin Tahir
📚 Jurnal
Sosiohumaniora – Jurnal Ilmu-ilmu Sosial dan Humaniora
🗓 Volume
Vol. 27, No. 1, March 2025: 578–586
🔗 DOI
https://doi.org/10.24198/sosiohumaniora.v27i1.63330

Submitted: 14 May 2025 | Accepted: 08 August 2025 | Published: 09 August 2025

Kata kunci: filantropi Islam; praktik sosial; bisnis kuliner; wakaf produktif.

Abstrak

Saat ini, filantropi Islam di Indonesia masih belum dimanfaatkan secara optimal. Berbagai studi menunjukkan bahwa jika Gerakan Wakaf Produktif dikembangkan dengan baik, maka gerakan tersebut dapat memperkuat ketahanan masyarakat, khususnya selama krisis pandemi Covid-19.

Penelitian sosiologis ini bertujuan untuk mengeksplorasi skema praktik sosial dari bisnis kuliner berbasis wakaf produktif selama masa pandemi Covid-19 yang berlokasi di Restoran Ampera, Haii Coffee Shop, serta Cuankie dan Batagor Serayu yang bekerja sama dengan Waqf Pro 99 Sinergi Foundation.

Penelitian dilakukan melalui metode kualitatif dengan informan yang dipilih secara purposif, termasuk CEO Waqf Pro 99 Sinergi Foundation, manajer, dan karyawan dari bisnis kuliner tersebut. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, studi pustaka, dan dokumentasi.

Analisis deskriptif dengan pendekatan sosiologi pembangunan dan agama mengungkap fenomena wakaf produktif dalam bingkai Islam. Hasil penelitian menunjukkan kompleksitas skema praktik sosial bisnis kuliner dalam kerangka Organisasi Berbasis Agama, di mana bisnis kuliner menjadi tren kelembagaan baru dalam parameter praktik sosial. Studi ini juga menghasilkan beberapa strategi untuk memperkuat aktivitas ekonomi bisnis kuliner melalui pengelolaan wakaf produktif.

Pendahuluan

Pandemi Covid-19 telah membawa gangguan mendalam terhadap perekonomian global dan nasional. Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah menjadi salah satu sektor yang paling rentan. Di Indonesia, industri kuliner sebagai bagian penting dari lanskap UMKM mengalami dampak berat karena bergantung pada mobilitas konsumen dan transaksi harian.

Pada masa puncak pandemi, pembatasan sosial berskala besar dan lockdown regional menurunkan kunjungan konsumen serta omzet usaha. Sekitar 72,6% UMKM mengalami gangguan operasional serius. Sektor kuliner mengalami penurunan pendapatan terbesar, yaitu rata-rata 43,09%, disusul sektor jasa 26,02% dan fashion 13,01%.

Pemerintah Indonesia merespons melalui berbagai program stimulus seperti Bantuan Presiden Produktif untuk Usaha Mikro, keringanan pajak, dan restrukturisasi pinjaman. Namun, berbagai inisiatif tersebut dinilai memiliki jangkauan terbatas, menghadapi hambatan birokrasi, serta lebih bersifat jangka pendek sehingga belum menjamin pemulihan dan keberlanjutan usaha kecil.

Transformasi digital kemudian muncul sebagai strategi penting untuk mempertahankan konektivitas pasar. Pemerintah meluncurkan program Go Digital dengan target jutaan UMKM masuk ke e-commerce dan sistem pembayaran digital. Namun, tingkat adopsi digital UMKM masih rendah dan belum semua pelaku usaha memperoleh peningkatan kinerja signifikan.

Di tengah tekanan tersebut, terdapat kasus ketahanan bisnis kuliner yang dikelola melalui inisiatif Waqf Pro 99 Sinergi Foundation. Unit usaha seperti Ampera Restaurant, Haii Coffee Shop, Cuanki & Batagor Serayu, dan Soerabi Enhaii menunjukkan daya tahan ekonomi, bahkan mampu mencatat pertumbuhan tertentu.

Kasus ini menunjukkan potensi filantropi Islam, khususnya wakaf produktif, sebagai mekanisme pembangunan ketahanan ekonomi. Wakaf produktif menggunakan aset wakaf untuk tujuan menghasilkan pendapatan, kemudian hasilnya diinvestasikan kembali untuk program kesejahteraan sosial seperti pengembangan bisnis, pendidikan, dan kesehatan.

Tinjauan Literatur Awal dan Kesenjangan Riset

Potensi wakaf produktif dalam mendorong pembangunan sosial dan ekonomi semakin banyak mendapat perhatian dari para sarjana dan praktisi ekonomi Islam serta filantropi Islam. Berbagai studi telah menganalisis dimensi kelembagaan, keuangan, dan tata kelola model berbasis wakaf.

Studi sebelumnya menekankan pentingnya kredibilitas, transparansi, tata kelola, komunikasi kelembagaan, partisipasi masyarakat, dan inovasi keuangan seperti wakaf tunai. Akan tetapi, banyak literatur masih berfokus pada kerangka institusional, implikasi kebijakan, dan instrumen keuangan secara abstrak atau nasional.

Masih terdapat kesenjangan dalam memahami bagaimana wakaf produktif secara praktis diimplementasikan untuk mendukung UMKM, khususnya pada sektor kuliner selama krisis Covid-19. Masih sedikit pula kajian yang menggunakan analisis sosiologis untuk menangkap interaksi antara struktur dan agensi, yaitu hubungan antara lembaga formal, norma komunitas, kebijakan pemerintah, pelaku usaha, nazhir, dan pemimpin sosial.

Kebaruan Riset

Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi wakaf produktif dengan analisis sosiologis. Artikel ini menawarkan perspektif baru mengenai bagaimana filantropi Islam dapat diterapkan secara praktis untuk memperkuat ketahanan UMKM pada masa krisis. Secara teoritis, kajian ini berkontribusi pada pengetahuan tentang peran wakaf dalam ketahanan mikroekonomi. Secara praktis, artikel ini memberikan masukan bagi pembuat kebijakan, lembaga wakaf, dan pemangku kepentingan UMKM.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan menganalisis praktik bisnis kuliner berbasis wakaf produktif dalam menjaga ketahanan ekonomi UMKM selama pandemi Covid-19 melalui perspektif sosiologis, khususnya sosiologi pembangunan dan sosiologi organisasi, serta mengidentifikasi peran sinergis struktur dan agensi dalam membentuk praktik filantropi Islam produktif.

Metode

Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus untuk mengeksplorasi secara mendalam praktik sosial wakaf produktif pada sektor bisnis kuliner berbasis organisasi keagamaan. Studi kasus difokuskan pada Ampera Restaurant, Haii Coffee Shop, serta Cuankie dan Batagor Serayu yang dikelola bekerja sama dengan Waqf Pro 99 Sinergi Foundation.

Pendekatan riset menggabungkan sosiologi pembangunan dan sosiologi agama untuk melihat bagaimana organisasi keagamaan mengelola dana wakaf guna memperkuat ketahanan ekonomi komunitas selama krisis.

Informan dipilih secara purposif. Informan utama mencakup CEO Waqf Pro 99 Sinergi Foundation, manajer unit dapur, karyawan dan pelaku usaha mikro dalam unit bisnis kuliner berbasis wakaf, serta tokoh masyarakat seperti tokoh agama lokal dan penggerak sosial.

Data dikumpulkan melalui observasi langsung terhadap aktivitas operasional dan pengelolaan bisnis kuliner berbasis wakaf, wawancara mendalam, studi literatur tentang wakaf produktif, sosiologi agama, ekonomi Islam, serta dokumentasi arsip organisasi, laporan keuangan, dan media publikasi.

Analisis data menggunakan analisis deskriptif kualitatif berdasarkan Miles, Huberman, dan Saldaña yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Teori praktik sosial Bourdieu digunakan untuk menafsirkan habitus, modal, dan arena. Kesimpulan diverifikasi melalui triangulasi sumber, member check, dan peer debriefing.

Hasil dan Pembahasan

Waqf Pro 99 Sinergi Foundation. Sinergi Foundation awalnya merupakan bagian dari jaringan Dompet Dhuafa Multi-Corridor Network. Setelah mengalami transformasi kelembagaan, yayasan ini menjadi entitas independen dan mengembangkan Waqf Pro 99 sebagai unit pengelolaan aset wakaf. Waqf Pro 99 mengembangkan model wakaf hibrida yang menggabungkan wakaf properti dan wakaf sosial dalam program 9-in-1, meliputi pendidikan, kesehatan, infrastruktur keagamaan, dan bisnis produktif.

Ampera Restaurant. Restoran Ampera menjadi mitra strategis dalam inisiatif bisnis kuliner berbasis wakaf. Pada masa Covid-19, Ampera mengalami penurunan pendapatan akibat pembatasan aktivitas masyarakat. Restoran ini harus mengurangi lebih dari 50% tenaga kerja dan beralih pada layanan takeaway serta pengantaran daring melalui GoFood dan GrabFood.

Haii Coffee Shop. Haii Coffee Shop merupakan usaha kuliner skala kecil dengan dua karyawan dan pendapatan bulanan rata-rata sekitar dua juta rupiah. Unit ini bekerja sama dengan Sinergi Foundation melalui skema bagi hasil 40:60, di mana 40% untuk kedai dan 60% untuk dana wakaf. Pada masa pandemi, permintaan kopi botolan meningkat sehingga usaha ini fokus pada inovasi produk, kualitas, protokol higienitas, dan pemasaran digital.

Cuankie dan Batagor Serayu. Cabang bisnis kuliner ini berada dekat dengan Waqf Building 99 dan menjadi salah satu unit yang didukung Sinergi Foundation. Sebelum pandemi, pendapatan rata-rata mencapai sekitar 80 juta rupiah per bulan, lalu menurun menjadi sekitar 50 juta rupiah karena pembatasan mobilitas. Usaha ini memanfaatkan GoFood dan GrabFood untuk menjaga keberlanjutan operasional, sementara 25% pendapatan bulanan dialokasikan kepada yayasan sesuai kesepakatan kerja sama.

Peran Organisasi Keagamaan

Organisasi keagamaan berperan sebagai aktor pembangunan perantara yang menjembatani upaya negara dengan kebutuhan akar rumput. Perannya melampaui ritual keagamaan dan bergerak sebagai agen ekonomi yang memobilisasi, mengelola, serta mengalokasikan dana sosial keagamaan seperti zakat, infak, dan wakaf.

Dalam konteks wakaf produktif, organisasi keagamaan mengidentifikasi kerentanan ekonomi komunitas, memobilisasi skema wakaf produktif sebagai mekanisme pembiayaan berkelanjutan, menginvestasikan kembali hasil dari aset wakaf, dan membangun kepercayaan melalui tata kelola yang transparan serta sesuai syariah.

Mobilisasi dan Ketahanan Komunitas

Gerakan sosial yang mendukung ketahanan bisnis kuliner dalam kerangka wakaf produktif awalnya muncul melalui kepemimpinan individu dan berkembang menjadi tindakan sosial kolektif. Asep Irawan, CEO Sinergi Foundation, menjadi tokoh penting dalam transformasi ini dengan inspirasi dari model internasional seperti Warees Investments di Singapura.

Gerakan Wakaf Satu Juta Rupiah menjadi katalis partisipasi komunitas. Kampanye ini membuat wakaf lebih mudah diakses oleh masyarakat dari berbagai latar sosial ekonomi dan mengubah wakaf dari institusi yang elitis menjadi gerakan berbasis massa.

Faktor penting dalam mobilisasi mencakup organisasi dan nilai bersama, kepemimpinan, sumber daya moral, budaya, sosial-organisasional, manusia, material, jejaring, partisipasi, dan kapasitas komunitas. Sinergi Foundation memanfaatkan media sosial, jaringan kelembagaan, pendidikan wakaf, dan rekrutmen berbasis nilai Islam untuk memperluas dampak.

Pengelolaan Wakaf Produktif Terintegrasi dan Perbandingan Global

Dalam filantropi Islam, wakaf dipandang sebagai kewajiban spiritual sekaligus tanggung jawab sosial untuk memberikan manfaat jangka panjang bagi kepentingan umum. Indonesia memiliki potensi wakaf yang sangat besar, tetapi infrastruktur pengelolaannya masih belum sekuat beberapa negara lain.

Di Malaysia, wakaf dikelola oleh State Islamic Religious Councils dengan kolaborasi lembaga keuangan Islam. Di Mesir, Ministry of Awqaf bekerja sama dengan bank dan pengembang untuk merevitalisasi tanah wakaf. Di Amerika Serikat, lembaga seperti North American Islamic Trust mengelola wakaf untuk pendidikan, kesehatan, dan pembangunan masjid dengan akuntabilitas keuangan dan integrasi komunitas.

Di Indonesia, wakaf produktif dikelola oleh lembaga publik seperti Badan Wakaf Indonesia dan organisasi filantropi privat seperti Dompet Dhuafa, PKPU, Rumah Zakat, serta lembaga keuangan syariah penerima wakaf uang. Namun, tantangan tetap ada, termasuk rendahnya kesadaran publik, kurangnya nazhir profesional, dan transparansi yang belum memadai.

Kesimpulan

Penelitian ini menyimpulkan bahwa wakaf produktif yang dikelola oleh Faith-Based Organizations memiliki peran strategis dan terukur dalam mendukung ketahanan serta pertumbuhan UMKM selama masa krisis seperti pandemi Covid-19.

Temuan empiris menunjukkan bahwa organisasi berbasis agama mampu menyalurkan dana wakaf ke sektor perdagangan kecil, pertanian, dan jasa kuliner sehingga berkontribusi pada keberlanjutan usaha, retensi pekerjaan, dan pembentukan pendapatan bagi kelompok rentan.

Faktor keberhasilan utama mencakup kepercayaan kelembagaan, partisipasi komunitas, desain program adaptif, transparansi, akuntabilitas, mekanisme pemantauan, serta kemitraan lintas sektor antara pemerintah, swasta, dan lembaga filantropi.

Secara teoritis, penelitian ini berkontribusi melalui penerapan teori strukturasi Giddens, yang menjelaskan hubungan dinamis antara struktur sosial dan agensi. Penelitian ini menunjukkan bahwa struktur kelembagaan organisasi berbasis agama sekaligus memungkinkan dan membatasi agensi kewirausahaan dalam konteks krisis.

Dengan demikian, wakaf produktif tidak hanya dilihat sebagai ideal normatif-keagamaan, tetapi juga sebagai instrumen sosial-ekonomi yang nyata. Ketika dikombinasikan dengan manajemen profesional dan tata kelola terintegrasi, wakaf produktif berpotensi menjadi model yang dapat diskalakan dan direplikasi untuk pemberdayaan UMKM serta pemulihan ekonomi pascakrisis.

Referensi

Abdul Shukor et al. (2018); Abdullah & Suhaimi (2020); Al-Ani (2019); Allah Pitchay et al. (2018); Antonio (2010); Baskoro (2020); Bourdieu (1990); Chapra (2008); Cizakca (2000); Fadilah (2015); Fitriasari (2020); Giddens (1984); Iskandar & Latief (2021); Ismail & Possumah (2021); Jamaludin (2018); Kahf (2003); Kementerian Agama RI (2020); Kilas Bandung News (2021); Kusnandar & Dewi (2021); Kusumaningtias (2019); Latief (2021); Mannan (2018); Mahat et al. (2015); Miles, Huberman & Saldaña (2014); Mohd Thas Thaker (2018); Nasr (2001); Obaidullah (2014); Rahmawati & Nugroho (2020); Ritzer & Stepnisky (2018); Sadr et al. (2020); Setianti & Supriyadi (2020); Spradley (1980); Sukmana (2016); Suryani & Nugraha (2021).

🇬🇧 Strengthening Islamic Philanthropy Through New Productive Waqf Movement in Indonesia

Keywords: Islamic philanthropy; social practices; culinary business; productive waqf.

This article examines Islamic philanthropy in Indonesia, especially the underutilized potential of productive waqf. The study explores productive waqf-based culinary business practices during the Covid-19 pandemic through case studies at Ampera Restaurant, Haii Coffee Shop, and Cuankie and Batagor Serayu in collaboration with Waqf Pro 99 Sinergi Foundation.

Abstract

Islamic philanthropy in Indonesia remains underutilized. If the Productive Waqf Movement is well developed, it can strengthen community resilience, especially during crisis periods. This sociological research explores the social practice scheme of productive waqf-based culinary business during the Covid-19 pandemic. The research used qualitative methods with purposively selected informants, including the CEO of Waqf Pro 99 Sinergi Foundation, managers, and employees. Data were collected through observation, interviews, literature studies, and documentation. The findings show the complexity of culinary business social practice within the framework of Faith-Based Organizations and produce strategies for strengthening economic activity through productive waqf management.

Introduction

The Covid-19 pandemic disrupted the global and national economy. MSMEs were among the most vulnerable sectors. In Indonesia, the culinary industry was severely affected because it depends on consumer mobility and daily transactions. Social restrictions and regional lockdowns reduced consumer traffic and business turnover.

Government stimulus programs such as micro-business assistance, tax relief, and loan restructuring were introduced, but they were criticized for limited reach, bureaucracy, and short-term impact. Digital transformation emerged as a strategy, yet many MSMEs still faced digital literacy, infrastructure, and readiness gaps.

The Waqf Pro 99 initiative demonstrated that productive waqf could support economic resilience. Productive waqf uses endowed assets for income-generating purposes, with profits reinvested into social welfare, education, health, and business development.

Research Gap, Novelty, and Objective

Previous research has mostly focused on institutional frameworks, policy implications, financial instruments, governance, transparency, and cash waqf. However, fewer studies explain how productive waqf is practically implemented to support MSMEs in sector-specific and crisis-specific contexts.

The novelty lies in integrating productive waqf with sociological analysis. The study analyzes the interaction between structure and agency, formal institutions, community norms, entrepreneurs, nazhir, and social leaders.

The objective is to analyze productive waqf-based culinary businesses in sustaining MSME economic resilience during Covid-19 through development sociology and organizational sociology.

Method

The study uses a qualitative case study method. It focuses on Ampera Restaurant, Haii Coffee Shop, and Cuankie and Batagor Serayu. Informants were selected purposively, including the CEO of Waqf Pro 99, managers, employees, micro-entrepreneurs, and community leaders. Data collection used observation, interviews, literature study, and documentation. Data analysis followed Miles, Huberman, and Saldaña: data reduction, data display, and conclusion drawing. Bourdieu’s concepts of habitus, capital, and field guided interpretation.

Results and Discussion

Waqf Pro 99 Sinergi Foundation developed a hybrid waqf model combining property and social waqf into a 9-in-1 program supporting education, healthcare, religious infrastructure, and productive business ventures. Ampera Restaurant became a strategic partner and adapted during Covid-19 through takeaway and online delivery. Haii Coffee Shop collaborated under a profit-sharing model and shifted toward bottled coffee products and digital marketing. Cuankie and Batagor Serayu relied on online delivery platforms and allocated revenue to the Foundation under an agreed scheme.

Conclusion

Productive waqf managed by Faith-Based Organizations plays a strategic role in supporting MSME resilience and growth during crises. It contributes to business continuity, employment retention, and income generation. The study recommends stronger governance, transparency, accountability, monitoring, cross-sector partnerships, professional nazhir, digital tools, and community participation.

References

Abdul Shukor et al. (2018); Abdullah & Suhaimi (2020); Allah Pitchay et al. (2018); Antonio (2010); Baskoro (2020); Bourdieu (1990); Chapra (2008); Cizakca (2000); Fadilah (2015); Fitriasari (2020); Giddens (1984); Ismail & Possumah (2021); Kahf (2003); Kementerian Agama RI (2020); Kusumaningtias (2019); Latief (2021); Mannan (2018); Miles, Huberman & Saldaña (2014); Obaidullah (2014); Ritzer & Stepnisky (2018); Spradley (1980); Suryani & Nugraha (2021).

🇸🇦 تعزيز العمل الخيري الإسلامي من خلال حركة الوقف الإنتاجي الجديدة في إندونيسيا

الكلمات المفتاحية: العمل الخيري الإسلامي؛ الممارسات الاجتماعية؛ الأعمال culinaria؛ الوقف الإنتاجي.

الملخص

يتناول هذا المقال واقع العمل الخيري الإسلامي في إندونيسيا، حيث ما يزال غير مستثمر بصورة مثلى. وتوضح الدراسة أن تطوير حركة الوقف الإنتاجي يمكن أن يعزز صمود المجتمع، خاصة في أوقات الأزمات مثل جائحة كوفيد-19.

تركز الدراسة على ممارسات الأعمال الغذائية القائمة على الوقف الإنتاجي في مطعم أمبيرا، ومقهى هاي، وكوانكي وباتاغور سيراي، بالتعاون مع مؤسسة وقف برو 99 سينيرجي. اعتمد البحث منهجاً نوعياً من خلال اختيار مقصود للمخبرين، ومنهم المدير التنفيذي للمؤسسة، والمديرون، والعاملون في وحدات الأعمال.

المقدمة

أثرت جائحة كوفيد-19 بعمق في الاقتصاد الوطني والعالمي، وكانت المشروعات المتناهية الصغر والصغيرة والمتوسطة من أكثر القطاعات هشاشة. وقد تأثر قطاع الغذاء في إندونيسيا بشدة لأنه يعتمد على حركة المستهلكين والمعاملات اليومية.

رغم إطلاق الحكومة لبرامج دعم متعددة، فإن أثرها ظل محدوداً وقصير المدى. ومن هنا برز الوقف الإنتاجي كأداة اجتماعية واقتصادية قادرة على دعم استدامة الأعمال الصغيرة وتقوية صمود المجتمع.

الفجوة البحثية والجدة العلمية

ركزت الدراسات السابقة غالباً على الجوانب المؤسسية والمالية والتنظيمية للوقف، لكنها لم تتناول بما يكفي التطبيق العملي للوقف الإنتاجي في قطاع المشروعات الصغيرة، ولا سيما الأعمال الغذائية أثناء الأزمة.

تتمثل جدة البحث في دمج مفهوم الوقف الإنتاجي بالتحليل السوسيولوجي، من خلال دراسة العلاقة بين البنية والفاعلية، وبين المؤسسات الرسمية، والقيم المجتمعية، والرواد، ومديري الوقف، والقادة الاجتماعيين.

المنهج

استخدمت الدراسة منهجاً نوعياً بأسلوب دراسة الحالة. شملت الحالات ثلاث وحدات أعمال غذائية تعمل بالتعاون مع مؤسسة وقف برو 99. وتم جمع البيانات من خلال الملاحظة، والمقابلات المتعمقة، والدراسات المكتبية، والوثائق المؤسسية.

النتائج والمناقشة

أظهرت الدراسة أن مؤسسة سينيرجي طورت نموذجاً هجيناً للوقف يجمع بين الوقف العقاري والاجتماعي والإنتاجي. وأسهمت وحدات مثل مطعم أمبيرا ومقهى هاي وكوانكي وباتاغور سيراي في إظهار قدرة الوقف الإنتاجي على دعم الاستمرار الاقتصادي أثناء الأزمة.

تؤدي المنظمات الدينية دوراً تنموياً وسيطاً بين الدولة واحتياجات المجتمع، فهي لا تقتصر على الشعائر، بل تعمل كفاعل اقتصادي واجتماعي يدير أموال الزكاة والإنفاق والوقف ويعيد توظيفها في برامج إنتاجية.

الخلاصة

تخلص الدراسة إلى أن الوقف الإنتاجي، عندما يدار من قبل منظمات قائمة على الإيمان، يمكن أن يؤدي دوراً استراتيجياً في دعم صمود المشروعات الصغيرة والمتوسطة. كما يمكن أن يصبح نموذجاً قابلاً للتوسع في تمكين المجتمع والتعافي الاقتصادي بعد الأزمات.

🌾 Nguatkeun Filantropi Islam Ngaliwatan Gerakan Wakaf Produktif Anyar di Indonesia

Kecap konci: filantropi Islam; prakték sosial; bisnis kuliner; wakaf produktif.

Abstrak

Artikel ieu ngabahas yén filantropi Islam di Indonesia can dimangpaatkeun sacara optimal. Lamun gerakan wakaf produktif dimekarkeun kalayan hadé, gerakan ieu bisa nguatkeun daya tahan masyarakat, utamana dina mangsa krisis Covid-19.

Panalungtikan ieu nalungtik prakték sosial bisnis kuliner berbasis wakaf produktif di Restoran Ampera, Haii Coffee Shop, jeung Cuankie serta Batagor Serayu anu gawé bareng jeung Waqf Pro 99 Sinergi Foundation.

Bubuka

Pandemi Covid-19 nyababkeun gangguan gedé kana ékonomi nasional jeung global. UMKM kaasup sektor anu paling kapangaruhan, hususna sektor kuliner sabab gumantung kana mobilitas konsumén jeung transaksi sapopoé.

Sanajan pamaréntah ngaluncurkeun bantuan jeung stimulus, pangaruhna tacan cukup pikeun ngajamin pamulihan jangka panjang. Ku sabab éta, wakaf produktif muncul minangka instrumen sosial-ékonomi pikeun ngadukung daya tahan UMKM.

Kesenjangan Riset jeung Kabébaruan

Panalungtikan saméméhna loba museur kana tata kelola, lembaga, regulasi, jeung instrumen kauangan wakaf. Tapi can loba anu ngajelaskeun kumaha wakaf produktif dilaksanakeun sacara praktis dina sektor UMKM kuliner dina mangsa krisis.

Kabébaruan artikel ieu aya dina ngahijikeun wakaf produktif jeung analisis sosiologis, utamana hubungan antara struktur, agénsi, nilai agama, kapercayaan sosial, kapamingpinan, jeung pemberdayaan ékonomi.

Métode

Panalungtikan ngagunakeun pendekatan kualitatif jeung metode studi kasus. Informan dipilih sacara purposif, ngawengku pimpinan Waqf Pro 99, manajer usaha, pagawé, pelaku usaha mikro, jeung tokoh masyarakat. Data dikumpulkeun ngaliwatan observasi, wawancara, studi pustaka, jeung dokumentasi.

Hasil jeung Pedaran

Waqf Pro 99 Sinergi Foundation ngamekarkeun modél wakaf hibrida anu ngahijikeun wakaf properti, wakaf sosial, jeung wakaf produktif. Ampera Restaurant, Haii Coffee Shop, jeung Cuankie & Batagor Serayu nunjukkeun kumaha bisnis kuliner tiasa adaptasi dina krisis ku ngamangpaatkeun layanan digital, skéma bagi hasil, jeung dukungan lembaga.

Organisasi agama miboga peran minangka aktor pangwangunan anu ngahubungkeun kabutuhan masyarakat jeung sumber daya sosial-kaagamaan. Dina wakaf produktif, organisasi agama ngumpulkeun dana, ngatur aset produktif, ngawangun kapercayaan, sarta nyalurkeun mangpaat ka masyarakat.

Kacindekan

Wakaf produktif anu dikokolakeun ku Faith-Based Organization miboga peran strategis pikeun ngadukung daya tahan jeung tumuwuhna UMKM dina mangsa krisis. Ku tata kelola profesional, transparansi, partisipasi masyarakat, jeung dukungan kelembagaan, wakaf produktif bisa jadi modél pemberdayaan UMKM jeung pamulihan ékonomi pascakrisis.